Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah meninggikan derajat orang-orang berilmu, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan dalam mencari dan mengamalkan ilmu.

Kisah Hikmah: Tidurnya Seorang ‘Alim

Dikisahkan dalam Durratun Nashihin, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju masjid. Saat tiba di pintu masjid, beliau melihat Iblis berdiri di sana.

Rasulullah ﷺ bertanya:
”Wahai Iblis, apa yang engkau lakukan di sini?”

Iblis menjawab:
“Aku ingin masuk ke dalam masjid dan menggoda orang yang sedang shalat, tetapi aku merasa gentar karena ada seorang lelaki yang sedang tidur di situ.”

Rasulullah ﷺ pun bertanya lagi:
“Mengapa engkau tidak takut kepada orang yang sedang shalat, tetapi justru takut kepada orang yang sedang tidur?”

Iblis menjawab:
“Orang yang sedang shalat itu bodoh (jahil), mudah aku tipu. Namun orang yang tidur itu adalah seorang yang berilmu (‘alim). Aku khawatir bila ia bangun, ia akan membetulkan shalat orang yang jahil itu.”

Subhānallāh.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga: bahwa ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi dalam pandangan Islam, bahkan seorang ‘alim yang tertidur lebih ditakuti oleh Iblis daripada seorang jahil yang sedang beribadah. Sebagaimana pepatah ulama:

“نَوْمَةُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ”

Tidurnya orang yang berilmu lebih utama daripada ibadahnya orang yang bodoh.

Kedudukan Ilmu dalam Islam

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang agung. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Dan dalam ayat lain:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا۟ مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا۟ الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah menjadikannya paham tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, ilmu adalah cahaya bagi hati, kemuliaan bagi diri, dan kunci untuk memahami kehendak Allah SWT.

Ilmu yang Tidak Diamalkan

Namun, Islam juga memperingatkan keras terhadap orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Imam al-Ghazali berkata: ”Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Demikian pula Allah SWT berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

Rasulullah ﷺ juga bersabda: ”Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah seorang alim (berilmu) yang ilmunya tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi)

Maka ilmu sejati bukanlah yang banyak dihafal, tetapi yang membimbing laku dan membentuk akhlak. Ilmu yang tidak menggerakkan amal hanyalah seperti pelita yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri. Tujuan ilmu dalam Islam bukan sekadar hiasan lisan atau alat mencari kedudukan. Ilmu sejati adalah yang membawa manfaat: Bagi diri sendiri, dengan menuntun kita ke arah yang lebih diridhai Allah SWT. Bagi orang lain, dengan memberi cahaya, inspirasi, dan manfaat yang luas. Sebagaimana dikatakan para ulama: “Orang berilmu bukanlah yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling banyak berbuat.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menuntut ilmu dengan niat yang benar, mengamalkannya dengan tulus, dan menyebarkannya dengan hikmah. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Penulis: Mujtahidin
YPK Sajimiyah, Lombok Timur-NTB

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *